Dr. Yonathan Baskoro: Sport Tourism Dapat Menjadi Jendela Baru Pariwisata di Bali.

praktisi hukum, Dr.Yonathan Andre Baskoro,S.H.,LL.M.,M.AP

Nasional113 Dilihat

 

JAKARTA – Tokoh muda sekaligus praktisi hukum, Dr.Yonathan Andre Baskoro,S.H.,LL.M.,M.AP Anggota Komisi I DPRD Kota Denpasar melakukan pertemuan strategis dengan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026). Pertemuan yang dikemas dalam suasana makan siang santai tersebut membahas berbagai tantangan serta peluang besar untuk masa depan pariwisata Bali.

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah permasalahan sampah di Pulau Dewata. Dr. Yonathan dan Wamen Ni Luh Puspa sepakat bahwa penanganan sampah harus segera dituntaskan demi menjaga marwah Bali sebagai destinasi kelas dunia.

“Kami sepakat bahwa sampah harus segera tuntas di Bali. Kebersihan di tempat wisata, termasuk fasilitas umum seperti toilet, harus diperhatikan secara serius. Jika kita bicara tagline ‘Pariwisata Kelas Dunia’, maka kenyamanan wisatawan adalah harga mati,” tegas Dr. Yonathan.

Senada dengan hal tersebut, Ni Luh Puspa menekankan pentingnya sinergi kebersihan yang dimulai dari unit terkecil, yakni rumah tangga, desa, hingga tingkat kabupaten/kota.

Diskusi berkembang pada perubahan perilaku wisatawan pasca-pandemi yang kini lebih peduli pada kesehatan (health-conscious). Selain wisata budaya dan alam, tren wellness dan sport tourism kini mulai mendominasi minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dr. Yonathan menyoroti fenomena olahraga Padel yang tengah booming di Bali. Keunikan bermain Padel dengan suasana “Tropical Bali” menjadi daya tarik yang sulit ditemukan di belahan dunia lain.

“Bali sekarang bukan hanya soal Beach Club. Wisatawan mulai melirik fasilitas kesehatan dan olahraga. Olahraga Padel, misalnya, punya potensi luar biasa karena banyak tamu asing dan lokal datang ke Bali khusus untuk ini. Ini adalah kekuatan yang harus kita dorong,” ungkapnya.

Untuk memaksimalkan potensi ini, Dr. Yonathan mengusulkan konsep paket wisata (bundling) yang komprehensif. Sebagai contoh, paket 3 hari 2 malam yang menggabungkan wisata budaya, kuliner otentik, hingga aktivitas olahraga seperti Padel dan watersport.

Ia juga mendorong kolaborasi antar pelaku usaha. “Hotel yang tidak memiliki fasilitas olahraga bisa bekerja sama dengan pemilik fasilitas olahraga di luar hotel. Ini adalah win-win solution untuk meningkatkan pendapatan pengusaha hotel lokal,” tambahnya. Namun, ia memberi catatan bahwa fasilitas tersebut harus memiliki manajemen dan kualitas pelayanan yang terstandarisasi.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam kesempatan tersebut juga memberikan pesan khusus untuk mendorong pelaksanaan turnamen olahraga berskala internasional di Bali. Wanita kelahiran Buleleng ini melihat peluang besar pada cabang olahraga baru yang sedang naik daun.

“Turnamen Padel Internasional di Bali, misalnya, itu belum ada. Jika dikonsepkan dengan matang, kita bisa mulai dari level Asia hingga Dunia. Lapangan-lapangan di Bali kualitasnya sudah sangat bagus,” ujar Wamen Ni Luh Puspa optimis.

Menutup diskusi tersebut, Dr. Yonathan Baskoro meyakini bahwa jika sport tourism dikelola secara berkesinambungan dan diberi sentuhan khas budaya Bali, hal ini akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Jika ini berjalan konsisten, saya yakin Sport Tourism akan menjadi jendela baru pariwisata Bali yang berkontribusi besar bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Bali ke depan,” pungkasnya.

 

 

AR81

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *